Kamis, 13 November 2014

Lika Liku Lalu Lintas

Kalo ngomongin soal lalu lintas memang luarrr biasa sekali ya jalanan di Bandung. Sudah lumrah kalo dengan uang 500rb seseorang sudah bisa dapet motor baru dengan cara dikredit. Uda kebayangkan betapa banyaknya kendaran terutama motor yang turun kejalanan secara bersamaan sedangkan luas jalan jarang sekali diperlebar walau sering ada perbaikan jalan tetap saja dibeberapa titik masih banyak jalan berlubang.

Disetiap pagi pada jam 6-8 adalah jam tersibuk dihari kerja, banyak anak sekolah yang hendak bersekolah, para orang tua yang mengantar anak sekolah dan para karyawan yang hendak mencari nafkah. Bertumpah ruah dijalanan macetpun tak terhindarkan bukan karena lampu merah yang lama tapi karena jumlah kendaran yang memang banyak.

Aku adalah perempuan motoris, sudah 5 tahun aku berlalu lalang dengan motor merah mio ku. Saat kuliah tingkat 3 aku memutuskan untuk kredit motor karena mengalami traumatik penjambretan dalam angkutan umum. Pertama bawa motor kejalan raya, deg-degan, gak bisa nyembrang, gak berani nyiap dan selalu kaget kalo diklaksonin orang. Tapi lama kelamaan menjadi terbiasa dan keahlian bermotorpun pasti mengalami peningkatan.

Saat ini aku tinggal numpang dengan sodara yang kebetulan rumahnya diareal perbukitan Bandung, maklum dijaman sekarang untuk mendapatkan rumah RSS tidak ada diareal Kota Bandung. So para develover membangun rumah-rumah minimalis dengan harga meximalis diareal tanah-tanah kosong dipinggiran kota, diperbukitan atau kalu diperbolehkan mungkin diperhutanan. Areanya kalo timur Bandung ya timuuuurrrrr sekali kalo Selatan Bandung yang selatannnn banget sampai masuknya Kabupaten, kalau Utara Bandung ya paling atas seatas-atasnya mungkin masuknya sudah Bandung Barat atau Cimahi. Ya begitulah lahan dari dulu sampe nanti tetap segitu-gitu aja tapi manusia semakin lama semakin bejibun cyynnnttttt.

Pada musim kemarau tinggal di berbukitan itu rasanya sejuuukkkk, berlimpah air, dipagi hari mendapatkan oxigen yang bersih dan sore hari ketika pulang kerja menikmati pemandangan yang luar biasa indahnya, pohon-pohon yang daunnya sedang berguguran bermandikan cahaya matahari senja, berasa di Jepang dehh. Baru beberapa bulan sodaraku pindah kerumah itu dan selama ini yang kami lewati adalah musim panas-kemarau. Tibalah sekarang musim penghujan, hari pertama pulang kantor kehujanan dengan intensitas rintik karena pada siang hari katanya hujan angin jadi pas sore hujannya uda reda. Hari kedua.

Rabu, 12 November 2014 hari kedua kebagian hujan saat pulang kantor. Saat waktu hendak menunjukan pukul 5 sore hujan diluar masih sangat deras, sehingga aku dan temen-temen memutuskan untuk menunggu hujan sedikit reda karena sebelumnya hujannya pake angin besar sehingga aga ngeri gituu. Lama menunggu namun hujan tak kunjung reda setelah 30 menit menunggu kamipun memutuskan untuk pulang saja karena kalau nunggu reda entah kapann. Arah pulang dari kantor di Padjaran menuju rumah sodara di Bukit Bandung Utara, melewati jalan bandara penerbangan Bandung yang jalannya kecil dan lapangan yang luas (jalan lewat sini lebih baik dari pada jalan melalui Sukajadi yang macet dan pasti banjir). Mengambil jalan ini karena bisa lebih cepat sampai ke rumah namun ternyata karena jalan itu dikelilingi lapangan kosong tanpa gedung tinggi membuat angin semakin besar, saat ku kemudikan motor dengan kecepatan 40-50km aku hampir terhempas oleh angin akhirnya aku melambatkan laju motor menjadi 20km agar aku tidak terlalu ringan saat angin besar menghempas kembali. Kepacu kendaranku dengan penuh hati-hati dan bertasbih, hujan mengguyur semakin deras dan angin bertiup semakin kencang. Aku melihat kearah pengendara lain yang sedang berusaha menerjang hujan untuk dapat sampai kerumah bertemu dengan orang-orang terkasih. Dalam benak aku berkata "Perempuan dan Laki-laki sama hebatnya, dijalan kami sama-sama berjuang melewati jalanan yang penuh lubang, hujan dan angin kencang, serta rebutan cepat dengan pengguna jalan lain". Sungguh nikmat ya mencari rejeki-Nya. Tak terasa akhirnya aku sudah sampai diujung jalan, lalu aku keluar dari jalan bandara dan memasuki jalan perkomplekan roller coaster (naik,turun,naik,turun,cantik,cantikkk kalo kata syahrini). Jalanan yang tidak terlalu besar, berlubang dan batu berserakan disepanjang jalan yang terbawa oleh air hujan. Dengan penuh hati-hati aku lalui jalan itu, langit gelap dihiasi kilatan petir yang menyambar-nyambar mulut ini hanya bisa terus-terusan berdo'a sampai tiba dirumah.

Kamis, 13 November 2014, hari berikutnya dimusim hujan. Waktu teng tepat jam 5 sore, aku berisap untuk pulang diluar hujan deras sekali tp aku ingin sekali segera sampai dirumah. Akhirnya aku berpamitan pada teman-teman untuk pulang duluan. Salah satu temanku menyarankan aku untuk berteduh sebentar namun aku memutuskan untuk pulang saja. Kupakai jas hujan warna biruku, terkadang kami suka bercanda menjadi power ranger saat berbaju kan jas hujan, aku sebagai ranger biru :D. Aku pulang menyusuri jalan dan masuk kembali ke jalan bandara, hujan besar sekali namun tanpa angin, bersyukur sekali tidak hujan angin. Aku pacu motorku dengan kecepatan 20km walaupun motor lain berseliweran kebut-kebutan aku dan beberapa pengendara lain memilih untuk menikmati hujan dan safety ride.  Keluar dari jalan bandara masuk keperumahan lalu arah sari jadi melewati polpan, hujan besar disertai kilatan petir aku bertasbih dan berdoa sepanjang jalan memohon keselamatan kepada-Nya. Tibalah saat akan memasuki jalan roller coaster, sebelum masuk jalan itupun akses jalan dibawah sudah rusak berat, banyak batu-batu dan lubang dalam sedangkan dikiri kami adalah tebing rawa, jalanan kecil sedangkan kendaraan banyak. Banjir melanda menyapu beberapa motor yang melintas mendorong para pengendara kearah tebing tapi dengan sedikt ngebut mereka berhasil melalui. Saat aku melintas banjir dari kanan itu yang menuntun untuk kearah tebih aku sedikit panik karena memang aku merasa motorku terbawa arus kepinggir menuju tebing, lalu aku berusaha tenang, aku turunkan kaki-ku ku kuatkan gak dan akhirnya berhasil melaluinya. Tak lama kemudian aku menanjak dan betapa kegetnya aku saat menanjak rupanya banjir menghadang, air mengalir deras dari atas menuju dasar, seluruh muka jalan terendam air yang mengalir kebawah. Bagai air terjun, namun aku tetap berusaha untuk naik walaupun air banjir dengan derasnya turun kebawah menjadikan aku harus berkendara melawan arus. Sangat sulit sekali, saat air deras kebawah dan kita harus maju naik keatas belum lagi banyak batuan yang terbawa oleh derasnya air. Beberapa kali aku terpeleset batu dan hendak jatuh tapi Alloh masih melindungi. Alhamdulillah. Dengan penuh ketakutan aku melewati jalanan itu sambil berdoa semoga tidak jatuh. Dan akhirnya akupun sampai kerumah dengan basah kuyub, muka amburadul, hati yang deg-degan dan dengan mas selamat :D

Begitulah kisah motoris perempuan dijalan yang penuh dengan lika liku lalu lintas harus siap dengan medan jalan seperti apapun. Sama halnya dengan pengendara leki-laki, perempuan harus tangguh saat berkendara motor harus siap saat jatuh, harus siap saat akan parkir, harus siap saat keluar parkir motor susah dikeluarkan, dan rintangan-rintangan jalanan lainnya. Ini adalah jalan yang kita pilih dari sebuah emantipasi wanita setara dengan pria, 

Semoga dikita selalu diberikan keselamatan dijalan ya, happy reading and safe riding :D