Nampak seorang pria tampan sedang mengikuti lyric lagu nya . .
Dia adalah Raka Mahardika Tama (tak ada hubungannya dengan pemilik Net TV), seorang eksekutif muda yang bekerja sebagai Manager General Affair disebuah perusahaan properti terkemuka di Indonesia. Kepiawaiannya dalam menjadi profesional membuat dia mendapatkan posisi penting diperusahan Bumi Indah Group. Adalah sebuah perusahaan Property terbesar di Indonesia, proyeknya tersebar diseluruh Indonesia. Berkat kerja kerasnya Raka berhasil menjadi salah satu eksekutif muda diperusahaan itu dan sering berganti jabatan di tingkat Manajer, Rakapun menjadi salah satu anak emas dari pemilik Bumi Indah Group.
Dia bergabung diperusahan itu semenjak usianya 24 tahun sampai sekarang usianya 32 tahun, dia telah menikah dengan Ranti dan memiliki anak laki-laki bernama Musqy 5 tahun dan putri cantik bernama Cassandra (mungkin karena Ranti sering nonton telenovela). Seperti pernikahan lainnya rumah tangga Raka dan Ranti tidak selalu harmonis, Ranti adalah teman kuliahnya Raka merupakan kaka tingkat Ranti. Semenjak pacaran sampai menikah hubungan mereka penuh dengan drama percintaan yang pelik (hihihihii, geli bangt gw pake kata itu) jatuh bangun dalam cobaan percintaan, saling menselingkuhi, tak direstui orang tua sampai akhirnya menikah dan mempunyai anak juga.
Dia bergabung diperusahan itu semenjak usianya 24 tahun sampai sekarang usianya 32 tahun, dia telah menikah dengan Ranti dan memiliki anak laki-laki bernama Musqy 5 tahun dan putri cantik bernama Cassandra (mungkin karena Ranti sering nonton telenovela). Seperti pernikahan lainnya rumah tangga Raka dan Ranti tidak selalu harmonis, Ranti adalah teman kuliahnya Raka merupakan kaka tingkat Ranti. Semenjak pacaran sampai menikah hubungan mereka penuh dengan drama percintaan yang pelik (hihihihii, geli bangt gw pake kata itu) jatuh bangun dalam cobaan percintaan, saling menselingkuhi, tak direstui orang tua sampai akhirnya menikah dan mempunyai anak juga.
Hubungan pernikahanpun tak selamanya berjalan mulus kecemburuan Ranti yang membabi buta sering menjadi akar mula pertengkaran.
Kisah cinta Raka dan Ranti adalah wujud cinta dari istilah Love Hurt, mereka saling mencintai namun sering kali saling menyakiti. 7 tahun menjalin cinta dengan status pacaran bukan lah waktu yang sebentar drama putus nyambung membumbui hubungan mereka hingga akhirnya Ranti hamil dan merekapun segera menikah. Itulah takdir cinta yang harus dilalui mereka, kehadiran anak mereka membuat mereka bersatu dalam ikatan pernikahan yang sampai sekarang sudah berlangsung selama 5 tahun.
Ranti adalah perempuan modis yang sering menjadi foto model semasa SMA sampai setelah mempunyai anakpun dia masih tekun melakoni profesi itu, karena walaupun sudah mempunyai 2 anak kecantikan dan kemolekan tubuh Ranti tidak berubah malah semakin bagus. Sifat Ranti pencemburu dan mempunyai cinta berlebih terhadap Raka sehingga rasa cemburu Ranti sering membuat repot Raka.
Siang itu Raka sedang berbenah meja kerjanya seraya mempersiapkan berkas-berkas meeting yang akan dibawanya untuk rapat di Bandung.
"Ka, loe uda siap" tanya Rico teman sekaligus sahabat Raka di kampus dan dikantor.
'Uda siap Ko, coba loe samperin si Derry, dari tadi dikamar mandi kaga keluar" dia, bertelor kali tuh anak" gurauan Raka.
"Gile loe kejem amat ma gw, loe kira gw naga apa, bertelor" keluh Derry yang baru keluar dari arah toilet.
"Mending naga, cicak elu ma" balas Rico, merekapun sontak tertawa semua.
Raka dan Rico adalah sahabat semasa dikampus mereka tak terpisahkan sehingga membuat mereka bisa bekerja 1 perusahaan, itu semua berkat Raka yang bisa memasukan Rico bergabung di Bumi Indah Group. Sedangkan Derry adalah teman 1 kantor mereka dan manjadi sangat akrab dengan mereka.
Merekapun segera beranjak menuju Bandung, 3 jam berlalu mengarungi ibu kota yang macet akhirnya merekapun tiba di Bandung. Mereka langsung menuju apartement perusahaan untuk menginap disana, sebenarnya mereka bertiga berasal dari Bandung namun karena pekerjaan mereka memutuskan untuk menginap bersama di Apartement milik perusahaan guna untuk membahas pekerjaan untuk meeting besok pagi.
Malamnya mereka pergi kesebuah club yang lagi ngeHits di Bandung untuk bersantai sejenak sekedar untuk minum Beer. Tak lama berselang telp Rakapun berdering, dilayar HP tertulis "My Life" tertanda tlp itu dari Ranti.
"Haloo " angkat Raka, dibalik tlp suara Ranti langsung memotong.
"Haloo, suamiku sayang, kamu lagi dmn ? Jadi ke Nortwest clubnya?"
"Jadi ney kita lagi nongkrong"
"Sama siapa aja ? Ada ceweknya yaa?" tuduh Ranti
"Ngga ada sayang, ini cuma bertiga" karena tau Ranti adalah wanita pencemburu, Rakapun langsung menantang Ranti "Kalo istriku ga percaya, kesini aja temenin aku"
"Okai Sayangku" Ranti langsung menutup tlp.
Dengan raut heran Rakapun menutup tlp dari Ranti.
"Kenapa Bro ?" tanya Derry "Bini loe ya ?"
"Iya, dia tanya ada cewe ga disini ? ya gw jawab ngga ada." jawab Raka datar, "maksud gw belum ada" gurau Raka kembali yang membuat mereka tertawa.
"Hahahaa, Ranti . . Ranti . . Gw kalau inget masa lalu kalian bikin gw greget banget" pungkas Rico.
"Loe jadi juga ya married sama dia, setelah sekian banyak proses yang mengharu biru" lanjut Rico.
"Namanya juga jodoh Bro, kita bisa apa".
Tak lama kemudian ada tangan perempuan yang melingkar di bahu Raka lalu mencium pipi Raka.
"Suamiku, aku datang untukmu" ucap perempuan itu dengan lembut dan manja.
Mereka bertigapun tampak kaget dengan kehadiran Ranti.
"Ehh Saa Sayang kamu kesini ? kok ga bilang" anak"? gmn ?" tanya Raka dengan nada dan raut muka yang tampak kaget. Rantipun tersenyum.
"Anak" sama mama dong sayang, masa mau aku bawa kesini." jawab Ranti, mereka memang berasal dari Bandung yang hijrah ke Ibu Kota untuk karir yang lebih baik.
Ranti langsung menatap Rico seraya berkata "Aku denger loh Co kamu tadi bilang apa" ucap Ranti dengan nada judesnya dia, namun Ranti langsung tersenyum kepada Rico "Loe saksi yaaa betapa hebatnya kisah cinta kita" ucap Ranti sambil mencium mesra Raka.
"Cieeee uda ah loe berdua bikin kita makin Jones" keluh Derry yang langsung mengundang gelak tawa mereka.
"Tenang aja, gw bawa stock model, Girls ... " panggil Ranti pada teman-teman Modelnya. Lalu datanglah 5 perempuan muda nan cantik mempesona, mereka adalah model-model asuhan Ranti mereka masih berumur 20-25 tahun, kecuali Vina Sahabat Ranti yang sudah berumur 29 tahun.
Merekapun larut dalam pesta malam itu, penuh kesenangan dan suka ria. Waktu menunjukan pukul 1.30 malam, merekapun memutuskan untuk pulang dan beristirahat mengingat esok masih ada meeting menanti. Ranti sengaja tidak membawa mobil agar pulangnya bisa bareng dengan Raka. melihat Ranti yang mabuk, Rakapun memutuskan untuk membawa Ranti ke Apartemen yang berujung semua pulang ke Apartement.
Sampai di Apartemen yang memiliki type 3 bedroom ini, Ranti langsung menciumi Raka tanpa henti, seperti mereka adalah pasangan yang baru jadian atau pasangan yang sering LDR-an padahal kemarin pagi mereka baru saja bertemu dirumah. Rantipun tidak sungkan untuk meluapkan rasa cintanya didepan teman-teman Raka. Fisik Ranti yang hampir sempurna membuat Ranti mereasa percaya diri untuk show off kemesraan didepan umum.
Melihat Ranti dan Raka berciuman hot, teman-teman mereka langsung menyoraki mereka
"Uda loe pada masuk kamar gih, bikin ngiri aja" teriak Vina yang langsung mengundang gelak tawa semua orang. Raka hanya melampaikan tangan untuk ijin ke kamar tanpa melepaskan ciuman istri cantiknya, Raka langsung membopong Ranti masuk ke kamar.
Beeff Beefff Beeefffff Beeeeffffffff
Bunyi alermm yang mengguncang kamarpun terdengar, waktu menunjukan pukul 7 pagi,
"Banguuunnn semuaaa ayooo banguunnn" teriak Ranti sambil memukul mukul wajan "Bangun semuaaaa time to breakfast" teriak Ranti.
Ranti terbiasa bangun dan sibuk dipagi hari, walaupun sifat Ranti sering urakan namun Ranti selalu mencoba jadi ibu dan istri yang baik, dia tidak pernah melewatkan untuk membuat dan menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
Rantipun kembali melanjutkan memasak omlete dan roti isi, belanjaan yang sudah dia siapkan sebelum nyusul Raka di club.
"Hai Ran, uda sibuk aja ney pagi-pagi" sapa Rico, Rico terlihat sudah mandi dan sudah ganteng.
"Hai Co, uda siap aja ney, uda ganteng" lirik Ranti sambil melihat kearah Rico, yang sedang membuka lemari atas untuk mengambil gelas.
"Iya donk kan ekmud" goda Rico sambil tersenyum jahil.
"Hahahhaa, iya iya eksmud" senyum Ranti, Ranti langsung menyambar gelas yang tadi diambil Rico.
"Mau teh apa kopi ?" tanya Ranti.
"Kopi, Mocacino, airnya ditambah dan gulanya juga ditambah" ucap Ranti dan Rico secara bersamaan, yang mengundang tawa kecil keduanya. Ranti dan Rico memang sudah lama saling mengenal dan sering nongkrong bareng, sehingga membuat Ranti hapal kesukaan Rico. Ranti memang ornag yang hangat dan selalu ingin tahu kesukaan orang lain, karena pada dasarnya Ranti selalu menginginkan orang lain mengenal dan mengenangnya.
Semua penghuni kamar apartemenpun segera bangun karena wangi omelete yang dibuat oleh Ranti.
"Istriku tersayangggggg, uda cantik jago masak lagi, makin sayang jadinya" puji Raka sambil mencium mesra istrinya.
Setelah sarapan mereka bergegas untuk menuju kantor Bumi Indah Group ditengah kota Bandung. Rapatpun dimulai, rapat ini membahas tentang proyek perumahan diarea Bandung Selatan. Bumi Indah akan menyulap Kabupaten Bandung selatan menjadi wilayah perkotaan dengan mengusung perumahan besar mulai dari perumahan biasa sampai perumahan mewah namun terhalang oleh pembebasan tanah masyarakat sekitar. Tanah yang akan dibangun merupakan pemukiman warga, sudah 3 tahun ini masalah pembebasan tanah belum berhasil sehingga membuat Raka harus turun tangan.
Masyarakat tidak mau melepaskan tanah mereka karena, harga pergantian yang ditawakan tidak sesuai dengan keinginan masyarakat disana. Masyarakat sendiri masih jarang yang mempunyai Sertifikat tanah sehingga hal itu menjadi celah untuk Bumi Indah memberikan pergantian tanah dengan harga murah, sehingga membuat masalah ini menjadi rumit.
Di sisi masyarakat sendiri mereka mempunyai pengacara yang sangat loyal kepada masyarakat, pengacara ini sangat mementingkan keadilan untuk masyarat yang dia bela tidak perduli siapapun yang dihadapinnya, dia adalah pengacara muda yang sangat cerdas dan juda cantik dia adalah S.ArumiDarmawan (mungkin karena nama akhirnya Darmawan dia ingin menjadi seseorang yang lebih dermawan agar sesuai dengan nama yang diberikan orang tua kepadanya).
Diruang rapat itu sudah berkumpul semua pihak yang berurusan, para GM Bumi Indah termasuk Raka, Rico dan Derry, perwakilan dari Kabupaten Bandung Selatan, Perwakilan Masyarakat dan juga perwakilan dari kantor pengacara Arum. Rapat sangat panas diruang itu, pihak Kabupaten terlihat lebih memihak Bumi Indah sehingga perwakilan pengacara dan masyarakat menjadi meradang. Pihak Kabupaten keukeh dengan pendiriannya bahwa tanah itu tidak memiliki sertifikat sehingga seharusnya masyarakat dengan sendirinya meninggalkan area itu, sedangkan masyarakat keukeh dengan dalihnya bahwa tanah itu milik mereka karena sudah dimiliki turun temurun oleh leluhur mereka, sehingga mereka berhak mendapat pergantian uang yang layak.
Saat suasana memanas, terdengar suara pintu diketuk dan masuklah Pengacara Arum kedalam ruangan, Arum masuk dengan muka masam dan teramat marah lalu dengan tegas menegur perwakilan kabupaten "Saya dengar apa yang bapak katakan tadi, bapak kalau bicara mohon berhati-hati dan pakai hati" tegur Arum seraya menyerahkan dokumen yang ada ditangannya. "Ini adalah sertifikat tanah dan rumah milik warga" ucap Arum sambil memandang bengis kepada Perwakilan Kabupaten dan Bumi Indah. "Sudah syah tanah ini milik masyarakat dan bila anda Bumi Indah ingin membeli tanah mereka, maka belilah dengan harga pasaran yang wajar, rapat ini saya tutup kita bertemu dipengadilan" ucap Arum dengan nada melecehkan, lalu megajak perwakilannya dan perwakilan masyarakat keluar dari ruang rapat.
Semua peserta rapat yang tersisa tertegun, "pak, bagaimana mereka mendapatkan sertifikat tanah mereka ?" ujar Hans GM Bumi Indah Bandung. "Hmpp saya kurang tahu juga pak, di BPN memang waktu itu tanah itu belum ada sertifikatnya" Ujar Afif pekerwakilan Kab Bandung.
"kapan bapak cek ?" Tanya Derry. "uhmm 3 tahun yang lalu." Jawab Afif.
"Ya Ampun Bapak kenapa ga dicek lagi, mati kita pak!!" bentak Hans.
Sementara itu Rico dan Raka masih tertegun, mereka kaget dengan pengacara yang tadi menegur mereka dengan nada lantang dan lugas. Dia adalah Sanda yaa Sanda teman SMA mereka, Sanda adalah kecengan Raka sejak kelas 1 SMA, dia adalah anggota OSIS yang sangat pindar, cantik dan berjiwa sosial pantas saja sekarang dia jadi Pengacara HAM yang selalu membela kepentingan rakyat kecil. Hati Raka berdebar kencang melihat sosok wanita yang selama ini dipujanya. Terakhir mereka bertemu adalah 4 tahun yang lalu pada acara Reuni SMA mereka, selama ini tidak ada yang tahu bahwa Sanda adalah seorang pengacara HAM sehingga sangat surprise sekali kehadiran Sanda diruang rapat itu.
"Raka bagaimana menurutmu tentang masalah ini ?" tanya seorang Direktur BUmi Indah memecah lamunan Raka dan Rico.
"Saya yang akan tangani kasusnya pak" Jawab Raka dengan tegas dan menyembungikan senyum.
Rapatpun dibubarkan dan ditutup.
Raka, Rico dan Derry pun langsung melipir menuju mobil untuk makan siang disebuah cafe tematik di Bandung tempat yang memang biasa mereka kunjungi. Diperjalanan Hp Raka berdering.
"Halo Sayang" sapa wanita dibalik tlp itu.
"Iya sayang, kamu dimana ?" tanya Raka
"Aku di cafe Sky Blue" cafe dimana Raka akan makan siang disitu.
"Ohh kamu lagi makan ya, sama siapa aja ?" tanya Raka.
"Sama Vina dan Aria Yang, kamu kesini yaaa kan Vina mau kita jodohin sama Rico, okai ?" Sebenarnya saat itu Raka tak ingin bertemu dengan istrinya, kejadian dikantor membuat khayalannya melambung terbang ke masa lalu, menyelami hati yang kembali berbunga tatkala melihat sosok Sanda, namun karena tak ingin mengecewakan Ranti diapun menjawab Okai dan memutuskan untuk makan siang bersama.
Melihat Raka tertegun Rico pun membuka pembicaraan.
"Ka, itu Sanda temen kita kan ?" tanya Rico, Raka hanya tersenyum dan mengangguk, seolah hatinya lemas akan suatu hal.
"Wah gila tuh Pengacara, galak amat yah bro !!" sahut Derry "wah rupanya temen kalian yah" lanjutnya "Bisa dong gw jadi temennya dia juga" goda Derry sambil mengangkat nakal alisnya, meminta persetujuan teman"nya untuk dikenalkan lebih dekat kepada Sanda.
"Loe kata tadi dia gila dan galak, sekarang minta dikenalin" seloyor Rico, sementara Raka masih terdiam. "Gpp bro gw suka cewe yang galak, biasanya cewe galak itu gampangan bro" jawab Derry sambil ketawa-ketawa sendiri. Lalu Raka sontak bicara "Maksud loe apa gampangan" dengan nada ketus. "Wah wah kenapa marah Bro ?" goda Derry, melihat raut muka Raka yang memang sedikit emosi Derry langsung mencairkan suasana "Maksud gw ya dia gampangan, gampang marah, gitu aja emosi bro" jawab Derry sambil tersenyum. Rico melirik ke arah Derry melalui kaca spion tengah seraya mengedipkan mata pertanda "ini serius jangan dlu bercanda".
Merekapun terdiam tak satupun yang berbicara hanya penyiar radio lah yang bersuara saat ini. Raka terdiam, dalam benaknya terbayang lagi wajah Sanda yang walaupun marah masih tetap manis dan meneduhkan. Hatinya bergejolak, fantasi-fantasi masa lalu kenang kembali. Betapa dia memujanya, betapa Sanda sangat sulit untuk diraihnya, betapa seringnya dia memimpikan akan menikahi Sanda dan memiliki keluarga bahagia bersamanya. Tanpa sadar sampailah mereka di Sky Blue.
Makanan telah tersaji. Menu makan siang Raka, Rico dan Derry sudah siap, walaupun mereka tidak memesan namun Ranti sudah siap sedia memesankannya untuk mereka.
"Hempp Sop Iga Bakar, sedap sekali, buat siapa ini Ran ?" tanya Rico.
"Ya buat kamu donk Ricoooo, sahabatku. Seger ini baru disajiin pas banget kalian dateng. Buruan makan nih" balas Ranti, sambil menyodorkan makanan untuk mereka bertiga.
"Wahh Wahh Ranti nih paling hebat emang, biar kata gw jomblo juga berasa punya pacar kalo gini" balas Derry, mereka pun hanya tertawa mendengar komentar Derry.
Mereka lagi bercanda satu sama lain, saling mengobrol dengan tema" perjodohan Vina dan Rico. Namun Raka tampak melamun dan murung akan tetapi dia menyembungikan moodnya dihadapan Ranti. Haripun berlalu lalu mereka kembali ke Jakarta.
Seminggu sudah kejadian rapat di Bandung, namun Raka tidak bisa menepis bayang-bayang Sanda.
"Bro, gw liat loe ngelamun terus semenjak ketemu Sanda" ucap Rico.
"Hemmpp iya bro gw ... " Rakapun kembali terdiam.
"Inget Ranti dan anak-anak loe Ka, mereka membutuhkan loe terlebih anak-anak. Udah lah loe ga usah mikirin dia lagi" nasehat Rico. Raka tersenyum "Iya Bro gw tahu, tp dalam hati gw ada sesuatu yang aneh, gw mendadak sedih banget, ngga tau kenapa Bro" mereka berdua hanya bisa menghela nafas.
Karena Raka bersedia take over kerjaan di Bandung, otomatis dia akan pindah ke Bandung sampai urusannya selesai. Dia membawa serta team dan keluarganya untuk stay di Bandung. Minggu sorepun mereka bergegas ke Bandung, karena mereka orang Bandung jadi tak banyak yang harus dibawa pindah. Raka dan keluarganya memutuskan untuk tinggal bersama ibu Raka di Bandung Timur, namun terkadang Raka harus tinggal di Apartement kantor untuk bekerja dan rapat. Walaupun mereka tinggal 1 kota terkadang pekerjaan Raka sering memaksa mereka untuk LDR karena Raka terpaksa jarang pulang disaat pekerjaan proyek seperti ini.
Bandung adalah sarang untuk Ranti, dikota ini teman-teman entertainment banyak sekali, sehingga saat mendengar akan pindah ke Bandung dia sangat senang karena hari-harinya akan disibukan diluar rumah. Dia berencana untuk bekerja walaupun Raka keberatan namun daripada bertengkar Raka membolehkan Ranti kerja.
Seminggu di Bandung sangat mudah bagi Ranti untuk mendapat pekerjaan, karena memang koneksinya banyak sekali. Dia bekerja di sebuah Hotel di Bandung sebagai VR.
Alasan Raka mengambil proyek di Bandung adalah Sanda. Karena pekerjaan ini mereka jadi sering bertemu walaupun bertemu sebagai "musuh", Sanda akan tetap membela keyakinannya dan Raka mewakili perusahaannya. Rapat demi rapat dilalui mereka namun Raka belum menemukan celah untuk ngobrol bersama Sanda, karena disetiap rapat Sanda selalu penuh dengan emosi dan kebencian terhadap Bumi Indah.
Suatu sore di hari jumat, sebuah rapat sudah selesai. Sanda terdiam sejenak membereskan baerkas yang menumpuk dimejanya, saat itu asistennya yang bernama Putra tidak hadir untuk menemaninya. Saat semua orang sudah meninggalkan ruangan tinggallah Raka, Rico dan Derry yang sedang modus membereskan pointer sambil memandang ke arah Sanda. Dengan memberanikan diri Rico menghampiri Sanda.
"Sanda" tanya Rico. Sandapun menoleh dan berkata "Sanda hanya ada dimasa SMA dan kuliah, saat ini orang-orang lebih suka memanggil saya Arum" jawabnya dengan nada yang datar tanpa melihat lawan bicara.
"Okai, Arum" lanjut Rico, sanda menimpali "Ya, Pak Rico ada yang bisa saya bantu" jawabnya sambil melirik ke arah Rico dan tersenyum simpul.
"Waaw nadanya masih galak ya, heuu . . panggil Rico aja lah kan kita seteman SMA seangkatan, masa kamu ga ingat"
"Ingat, saya hanya bersikap profesional saja. Mengingat dalam kasus ini kita adalah musuh" ucap Sanda.
"Come on Sanda, ini sudah jam pulang kantor. Udahan yah, kita skr sebagai teman lama aja" ajak Rico, dan Sandapun tersenyum manis. "Nah gitu donk, buang semua emosinya. Kita profesional aja okai, pas jam kantor kita musuh pas jam pulang kantor kita teman, how bout that ?" tanya Rico sembari menjulurkan tangannya. Lalu Sandapun menyambut uluran tangan itu, sembari berkata "Okai"
Lalu Rakapun menghampiri mereka dengan hati yang berdegup kencang lalu dengan grogi dia berkata "Soo, gimana kalo kita ngopi bareng", lalu Sanda tersenyum dan bilang "Not too past" sambil tersenyum dan beranjak meninggalkan mereka. Sejenak mereka terdiam lalu tawapun pecah, Rico dan Derry menertawakan Raka yang dengan mentah di tolak Sanda. Namun walaupun ajakannya di tolak Raka bahagia karena akhirnya bisa melihat Sanda tersenyum kepadanya dan situasi sudah tidak tegang lagi.
Sabtu ini Raka berencana menghabiskan waktunya dengan istri dan anak-anaknya, Raka mengajak Ranti untuk tamasya keliling Bandung dan menghabiskan waktu di waterboom Bandung yang sedang terkenal dan kekinian. Saat akan berangkan tlp Ranti berbunyi, ternyata Big Bos nya tlp untuk rapat dadakan. Karena urusannya penting, Ranti tidak bisa ikut bersama Raka, demi untuk anak-anaknya yang uda exsited buat renang Rakapun tetap jadi pergi dan mengajak Rifa adiknya untuk menemaninya. Untungnya Rifa sangat dekat dengan anak-anak Raka sehingga anak-anak senang sekali akan ditemani tantenya.
Setelah jogging pagi merekapun langsung perji menuju waterboom, anak-anak ceria sekali bermain di waterboom. Walau tak ditemani bunda nya anak-anak nampak bahagia sekali dan bermain sampai sore. Saatnya pulang dipintu keluar Raka melihat sosok perempuan yang sangat dia kenal, ya itu Sanda. Dengan reflek dia langsung menyapanya
"Haiii Sanda" Sandapun menoleh dengan wajah kaget.
"Oh hey Raka",
"Km lagi ngapain San, at waterboom?" tanya Raka dengan wajah menerka.
"Bawa main anak-anak Ka, km ngapain ?"
"Sama" jawab Raka tersenyum.
Dari kejauhan terdengar suara memanggil "Tanteeeeeeee" lalu 2 anak kembar identik itupun menghampiri Sanda dengan riang.
"Ini nih anak-anakku tersayang, ponakanku" ucap Sanda sambil mencubit pipi kedua keponakannya.
Lalu terdengar suara dari arah mobil Lexus yang terparkir tak jauh darinya "Aaa cepetan a, anak-anak dah kecapean" teriak Rifa.
"Oh itu Rifa adik kamu ya?" tanya Sanda sambil melambai kearah Rifa yang kebetulan Sanda kenal dengan Rida yang bekerja di Bank rekanan kantornya.
"Iya, kayaknya anak-anak dah kecapean, aku pamit dulu ya" ucap Raka sembari mengulurkan tangan kearah Sanda untuk berpamitan, dengan senyum ramah Sanda menyambut salaman Raka. Saat berbalik Sanda mengucapkan kata-kata yang membuat Raka bahagia tak karuan.
"Tawaran ngopinya masih berlaku?" tanya Sanda, mendengar kata itu dunia seperti berhenti, jantung Raka berdebar tak karu-karuan. "Well, kalau malam ini sibuk, ga papa bisa next time" lanjut Sanda.
Raka langsung membalikan badannya dan mengatakan "Okai, bisa, malam ini kan" dengan suara bergetar dan raut wajah yang bahagia sekali. "Dimana ?". Melihat tingkah laku Raka, Sanda tersenyum "Kamu tau Cafe Cofee Risk ?" Raka mengangguk. "Okai jam 8 disana, it that Ok?" lanjut Sanda, Raka seperti terhipnotis dan langsung mengangguk" kegirangan.
Di mobil Raka tidak bisa menyembungikan rasa bahagianya, dia bernyanyi dan tersenyum lebar sepanjang perjalan da membuat Rifa terheran-heran.
"Kakenapa sey ?" tanya Rifa kepo, "Abis ketemu Ibu Arum langsung riang gembira gitu" godanya.
"Rifa apaan sey kamu, kalau ngomong jangan sembarangan kamu" balas Raka "Ada anak-anak"
"Tenang aja KA anak-anak dah tidur. Cerita donk kenapa ? ko kayak yang falling in love gt, hati-hati lohhh" ancam Rifa.
"Apaan sey Fa, ka cuma seneng aja ketemu temen lama" balas Raka sambil mengangkat alisnya. "Btw kamu kenal sama Sanda ?"
"Sanda siapa ka, itu Ibu Arum dia Notaris sekaligus Pengacara HAM, dia ma terkenal banget seBandung Raya, orangnya lembut, baik sama pegawainya dan baik pula sama rekanannya. Orangnya ironik sey ka"
"kenapa Fa"
"Dia kan cantik tapi belum nikah juga, padahal kan umurnya dah banyak kan kaya kakak, hahaha" goda Rifa. "Apaan sey Fa, umur 30 an itu lagi hot hotnya kali"seru Raka.
"Hot, cabe cabean kali ah hot" merekapun tertawa riang, memang Rafa dan Rifa adik kakak yang sangat dekat walaupun usia mereka beda 8 tahun.
"Mau dilanjut ga ceritanya ?" rajuk Rifa "mau donk Adeku sayang"
"Dia tuh pembela rakyat kecil lah pokoknya, dermawan, uda deh" Rifa pun berhenti bicara.
"Udah deh apa ?"
"Yauda, ceritanya udahan" jawab Rifa dengan nada datar yang lucu.
"Iy apaan sey ade ini ceritanya gitu doang"
"Ya apalagi donk kaka, Rifa taunya cuma gitu doang"
Mobil melaju sampai ke rumah Raka waktu menunjukan pukul 05.30. Raka langsung masuk ke rumah dan ke kamar dengan perasaan riang dan bersiap untuk memilih baju mana yang akan dia gunakan untuk malam nanti. Saat memasukin kamar Ranti sudah berada dikamar, dalam hatinya Raka berkata "Ya Ampun, sampe lupa kalau gw uda punya istri, apa yang harus gw bilang ke Ranti. Ini malam minggu, bisa habis gw kalau minta ijin keluar rumah" Raka masuk perlahan dan mencium kening Ranti, rasa getir timbul dihati Raka. Baru saja dia merasa jatuh cinta pada masa lalu nya, dan sekarang dia berhadapan dengan masa depannya. Dalam hati Raka berkecambuk, moralnya mulai berkata "gw orang yang sangat jahat" lalu Raka menghela nafas.
"Sayangku, besok kita ke dealer ya, kamu beli mobil" ucap Raka sambil mencium kening istrinya. Ranti langsung berbalik dan menciumi bibir Raka namun saat itu Raka tak mampu untuk berciuman karena dalam hatinya ada rasa yang sulit diungkapkan. Ranti melepaskan ciumannya.
"Kenapa sayang ? Ko tiba' kamu mau beliin aku mobil ?" tanya Ranti penuh heran. Dengan nada kikuk raka menjawab "hmmpp ngga, aku dah niat beliin kamu mobil uda lama ko, cuma kalau beli mobil bekas di jakarta ragu juga takutnya bekas kerendam banjir"
"Bekas ?" tanya Ranti dengan raut muka bertanya-tanya
"Iya bekas, gpp kan sayang ? Mobil bekas tapi yang bagus, dari pada mobil baru tapi murah" ucap Raka. Dengan gaya seperti orang yang berfikir Ranti bergumam "Hemppppp" lalu Ranti langsung menyergap suaminya, sehingga suaminya terjatuh ke ranjang. Ranti langsung mengciumi Raka, dia agresif sekali dan berkata "Ok sayangkuu, gapapa ko bekas juga, aku kan belum lihay ngetirnya, jadi mau aku tubruk-tubrukin ke orang" merekapun langsung tertawa.
Tak lama kemudian HP Ranti berdering, Ranti langsung menjawabnya dengan aga menjauh dari Raka. Dari kejauhan terdengar suara Ranti "iyaa jadi, okai, baik, tunggu saja, aku pasti dateng". Kemudian telp ditutup dan Ranti kembali ketempat tidurnya kemudian dia berkata.
'Sayangku, aku belum bilang ke kamu" ucap Ranti dengan nada membujuk
"Ada apa ?"
"Begini, dikantorku kan sedang ada proyek pembangunan baru, tadi tuh ada investor yang dateng dan tadi aku uda janjiin ke investornya kalau aku mau anterin mereka buat refreshing di Bandung"
"Refresing ? What Mean Please ?"
"To the poin yaaa, mereka mau entertainment disini dan aku di tunjuk buat nemenin mereka"
"APAAAAA, kamu kerja apa sey sebenernya ?? Wanita penghibur ?" ucap Raka dengan nada yang sangat marah. Ranti adalah tipe perempuan yang tidak suka dibentak.
"Hati-hati kalau bicara !!!" balas Ranti dengan nada yang lebih marah "Aku perempuan terhormat, aku adalah VR dan memang sudah jadi tugasku untuk menemani investor, aku rasa kamu tau itu kamu kan GA juga" bentak Ranti penuh emosi. Adzan magribpun berkumandang, pintu diketuk oleh ibunda Raka "Raka Ranti ayo kita sholat sayang" ajak ibunda Raka yang tau kalau anak dan menantunya sedang bertengkar.
Raka dan Ranti memang tidak sungkan untuk bertengkar didepan siapapun seperti halnya saat mereka show off kemesraan meraka.
"Baik bu, sebentar lagi kami keluar"
Mereka segera keluar dan melakukan shalat magrib berjamaah. Waktu menunjukan pukul 6.30 hati Raka bergetar teringat janjinya dengan Sanda, Raka ingin sekali memberi tahukan Sanda kalau dia tidak akan datang namun saat itu hp Raka mati total.
"Aku pergi" ucap Ranti, walaupun tidak diijinkan Ranti akan tetap pergi. Kenangan masa lalupun teringat kembali, dulu saat Ranti ada pekerjaan pemotretan di Singapore Raka tidak mengijinkan namun pada akhirnya Ranti pergi. Pemotretan adalah hal yang sangat disukai Ranti sehingga dia meresa tidak ada yang salah dengan itu. Walaupun pada akhirnya mereka bertengkar hebat dan nyaris bercerai namun karena ke 2 anaknya mereka rujuk kembali.
"Aku pergi" ucap Ranti lagi, Raka terdiam sejenak dia tidak ingin bertengkar dengan Ranti.
"Ok, tapi aku antar"
"Baiklah, terima kasih sayangku. Aku bersiap dulu" dengan nada ceria Ranti berlalu untuk ganti baju. Ranti memilih gaun warna merah maroon dengan steletto hels warna senada dengan rambut curly yang terurai indah.
"Kamu cantik banget"
"Aku tau sayang, aku istrimu jadi harus selalu tampil cantik"
Mereka pamitan kepada ibunda Raka dan menitipkan anak-anaknya, selama dengan oma nya anak-anak akan aman dan dijamin tidak akan rewel.
"Aku anter kemana ?"
"Ke bandara"
"Apa ??" Raka marah dan terkejut "Mau apa kamu ke Bandara ?"
"Aku mau ke Bali" Jawab Ranti dengan PD nya
"Kamu sudah gilaa, kamu sudah bukan lagi gadis, kamu bersuami dan sudah punya anak, kamu ga bisa kesana-kesini seenaknya!!" seru Raka dengan nada marah dan memukul stir mobil.
"Apaan sih kamu, marah-marah aja, kamu kemanapun kapan aku marah ??" nada Ranti santai "Aku ke Bali malam ini, besok pagi aku dah pulang"
"Pulang pagi" keluh Raka,"uda deh kamu resign aja"
"Kamu itu kenapa sey ga profesional banget, aku ga mau ya ngalah karena hal ini, aku kan dah bilang dan kamu ngijinin, lagi pula aku kan tidak selingkuh" ucap Ranti marah.
Mendengar kata selingkuh Raka langsung terperanjat kaget dan teringat dengan Sanda "ya Ampun, aku lupa ngabarin dia kalau aku tidak akan datang". Raka terdiam dan langsung mengantarkan Ranti ke bandara Bandung yang tidak terlalu besar itu. Di bandara sudah terlihat beberapa rekan Ranti menunggu serta ada 3 lelaki bule dan 2 orang perempuan bule,"mungkin itu investornya" bisik Raka dalam hati. Raka mengantarkan Ranti menuju rekan-rekannya dan berkenalan dengan semua rekan Ranti lalu berpamitan pergi.
"Hati-hati sayang, kabari kalau sudah di Bali" Raka pamit dan mencium kening Ranti "Iya sayang"
Ranti dan teman-temannya langsung masuk ke bandara untuk segera check in, sementara Raka duduk terdiam, dia masih berfikir dan mencerna apa yang sedang terjadi. Saat dia ada kesempatan bertemu berdua dengan Sanda, Rantipun kebetulan pergi, padahal kalau Ranti tidak pergi kesempatan bertemu dengan Sanda tak akan ada. Rakapun langsung mengaitkan semuanya dengan takdir, dalam benaknya dia berkata "mungkin inilah takdirnya, aku harus ketemu Sanda untuk mengetahui perasaanku yang sebenarnya". Kemudian dengan segenap hati Rakapun bergegas untuk memenui Sanda.
Menuju cafe Coffee Risk yang ada di area Dago atas, masuklah Raka ke cafe itu rupanya Sanda sudah datang. Dia duduk di bangku Bar yang menghadap ke tebing dengan pemandangan langit luas dan juga hutan pinus. Melihat Sanda dari belakang sudah memberikan debaran yang dasyat di hati Raka, segala apa yang dalam fikirannya hilang sudah. Raka mendekati Sanda ingin sekali dia mencium rambut wanginya Sanda yang diikat rapi itu, wangi parfumnya masih sama seperti saat kuliah dulu. Tanpa disangka Sandapun menoleh kebelakang lalu tersenyum kepada Raka.
"Haiii" sapanya dengan nada manis dan seyum lebar menghiasi wajahnya.
"Hai, uda lama San ?" ucap Raka sambil membalas lambayan tangan Sanda, lalu Raka duduk disamping Sanda.
"Belum ko, aku juga baru sampai" balas Sanda sembari memberikan buku menu yang ada ditangannya "Nih pilih, kopi ini pakai Arabica loh"
"Oh yaa" jawab Raka sambil tersenyum dan menampakan raut muka yang terkejut karena senang, padalah Raka tidak mengerti apa itu Arabica ataupun Robusta. Dia minum kopi apa saja yang tersaji.
"Iyah, ayo pilih, kamu sukanya jenis minuman kayak apa ? Espresso ?" tanya Sanda
"Waw" jawab Raka
"Ehh Sory, kamu suka kopi ngga ?" tanya Sanda karena melihat ekspresi muda Raka, Sanda khawatir dia salah memilihkan tempat ngopi.
"It ok, aku suka ngopi ko, tp ga espresso juga sey, pahit" jawab Raka untuk menenangkan Sanda, karena wajah Sanda sempat menunjukan tanda khawatir. Melihat raut muka Sanda yang sedang khawatir Raka semakin gemas, dia teringat waktu kuliah dulu saat acara reuni SMA pertama, Sanda memilih tempat sushi untuk acara Reuni. Raka belum pernah makan sushi sebelumnya, saat dia mencoba sashimi wajah Raka langsung memerah karna alergi. Saat itu Sanda sangat khawatir dan langsung mengantar Raka ke rumah sakit, dengan penuh rasa khawatir dia menggenggam tangan Raka dan memandang wajah Raka. Walaupun saat itu Raka kesakitan namun kebahagiaan ada dalam benaknya. Mengenang hal itu Raka langsung tersenyum bahagia.
"Hempp aku takut kamu alergi lagi" goda Sanda, dan merekapun tertawa lepas mengingat kejadian sushi itu. Akhirnya Raka pun memesan coffee late yang lebih dominan susu dari pada kopi ditemani sirloin sandwich sedangkan Sanda sendiri lebih memilih Dry Cappucino yang lebih sedikit cream dan sepotong beef lasagna untuk menemaninya. Mereka larut dalam obrolan masa lalu, tentang keseruan reuni dan sushi. Karena keasikan ngorol Raka sampai tidak sadar kalau Ranti tidak memberikan kabar dan kegiatannya di Bali, tak sedikitpun Raka ingat akan keluarganya, dia seperti kembali bujangan. Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, cafepun segera tutup namun mereka masih asyik dengan obrolannya.
"Duh uda mau close ney cafenya" ujar Raka
"Iyah, so we going home right " tanya Sanda, Raka selalu terjebak dengan pertanyaan ambigu seperti ini, dia bertanya-tanya dalam hatinya apakah ini pertanyaan atau pernyataan, seandainya tanda seru dan tanda tanya bisa terlihat melalui perkataan mungkin tidak akan membingungkan.
Seperti dulu saat SMA mereka mengadakan pensi, Sanda selaku osis dan Raka sebagai kru panitia. Raka sengaja mendaftar untuk menjadi panitia agar dia bisa terus bersama Sanda berharap ada kesempatan berdua bersama Sanda. Kesempatan itu sering muncul namun karena grogi Raka menyia-siakan kesempatannya. Saat selesai acara pensi, semua anak-anak berencana untuk mengadakan perta dengan pergi kesebuah tempat clubing namun tiba-tiba Sanda tidak jadi pergi.
"Guys, maaf sepertinya aku ga jadi ikut ke Morg Club, mendadak ada sodara aku yang dateng" ijin Sanda pada waktu itu.
"Yah, Sanda, ga seru donk" keluh Mila teman sekolah mereka.
"Km baliknya gmn ? kalau kita anterin kamu dulu kejauhan, nanti free pas nya hangus, hehe" ujar Jeremy, memang dulu karena masih SMA anak-anak mencari free pas atau gust list untuk masuk ke tempat clubbing supaya free entri maklum masih sekolah dengan resiko harus dateng diclub lebih awal.
"Gpp Jer, aku bisa balik sendiri"
"Beneran ? Dah malem gini loh San"
"beneran Jer gpp, kalian have fun ya disana, aku ga mau kalian mikirin aku, aku have fun kalau kalian have fun." ucap Sanda meyakinkan temannya. Lalu Raka memberanikan diri menawarkan diri untuk mengantarnya.
"Aku antar saja ya San, uda malem" ujar Raka
"Gpp Ka" balas Sanda, Raka berfikir bahwa kata itu "gpp raka aku sendiri aja" makanya Raka langsung menjawab "Oh gt, yauda kamu hati-hati ya, kabari kita kalau uda sampai" balas Raka, Raka langsung mengajak teman-temannya masuk ke mobilnya dan bergegas pergi, ini dia lakukan untuk memendam rasa kecewanya karena sudah ditolak Sanda. Padahal pada waktu itu maksud Sanda "Gpp ka" yang berarti dia balik nanya ke Raka "Gpp gt kamu nganterin aku ?". Maksud Sanda itu dimengerti oleh semua orang kecuali Raka, setelah Rico memberitahu Raka barulah Raka sadar kalau dia sudah salah menyia-nyiakan kesempatannya. Dan dari situ rasanya Raka ingin menabrakan kepala ke tembok.
Sejenak Raka terdiam lalu terpecah oleh ucapan Sanda "Kenapa diem Ka, kamu parkir dimana ?" Raka terperanjat lalu menjawab "Dibawah San" Dia ingin sekali menggenggam tangan Sanda namun tingkah laku Sanda menunjukan bahwa dia wanita mandiri yang tak ingin disentuh atau tak butuh pria untuk membatunya berjalan. Gaya Chic dalam berpakaiannya menunjukan dai mempunyai karekter cerdas dan kuat, malam itu dia mengenakan steletto heels warna abu yang sesuai dengan kaos rajut yang dikenakannya.
Kisah cinta Raka dan Ranti adalah wujud cinta dari istilah Love Hurt, mereka saling mencintai namun sering kali saling menyakiti. 7 tahun menjalin cinta dengan status pacaran bukan lah waktu yang sebentar drama putus nyambung membumbui hubungan mereka hingga akhirnya Ranti hamil dan merekapun segera menikah. Itulah takdir cinta yang harus dilalui mereka, kehadiran anak mereka membuat mereka bersatu dalam ikatan pernikahan yang sampai sekarang sudah berlangsung selama 5 tahun.
Ranti adalah perempuan modis yang sering menjadi foto model semasa SMA sampai setelah mempunyai anakpun dia masih tekun melakoni profesi itu, karena walaupun sudah mempunyai 2 anak kecantikan dan kemolekan tubuh Ranti tidak berubah malah semakin bagus. Sifat Ranti pencemburu dan mempunyai cinta berlebih terhadap Raka sehingga rasa cemburu Ranti sering membuat repot Raka.
Siang itu Raka sedang berbenah meja kerjanya seraya mempersiapkan berkas-berkas meeting yang akan dibawanya untuk rapat di Bandung.
"Ka, loe uda siap" tanya Rico teman sekaligus sahabat Raka di kampus dan dikantor.
'Uda siap Ko, coba loe samperin si Derry, dari tadi dikamar mandi kaga keluar" dia, bertelor kali tuh anak" gurauan Raka.
"Gile loe kejem amat ma gw, loe kira gw naga apa, bertelor" keluh Derry yang baru keluar dari arah toilet.
"Mending naga, cicak elu ma" balas Rico, merekapun sontak tertawa semua.
Raka dan Rico adalah sahabat semasa dikampus mereka tak terpisahkan sehingga membuat mereka bisa bekerja 1 perusahaan, itu semua berkat Raka yang bisa memasukan Rico bergabung di Bumi Indah Group. Sedangkan Derry adalah teman 1 kantor mereka dan manjadi sangat akrab dengan mereka.
Merekapun segera beranjak menuju Bandung, 3 jam berlalu mengarungi ibu kota yang macet akhirnya merekapun tiba di Bandung. Mereka langsung menuju apartement perusahaan untuk menginap disana, sebenarnya mereka bertiga berasal dari Bandung namun karena pekerjaan mereka memutuskan untuk menginap bersama di Apartement milik perusahaan guna untuk membahas pekerjaan untuk meeting besok pagi.
Malamnya mereka pergi kesebuah club yang lagi ngeHits di Bandung untuk bersantai sejenak sekedar untuk minum Beer. Tak lama berselang telp Rakapun berdering, dilayar HP tertulis "My Life" tertanda tlp itu dari Ranti.
"Haloo " angkat Raka, dibalik tlp suara Ranti langsung memotong.
"Haloo, suamiku sayang, kamu lagi dmn ? Jadi ke Nortwest clubnya?"
"Jadi ney kita lagi nongkrong"
"Sama siapa aja ? Ada ceweknya yaa?" tuduh Ranti
"Ngga ada sayang, ini cuma bertiga" karena tau Ranti adalah wanita pencemburu, Rakapun langsung menantang Ranti "Kalo istriku ga percaya, kesini aja temenin aku"
"Okai Sayangku" Ranti langsung menutup tlp.
Dengan raut heran Rakapun menutup tlp dari Ranti.
"Kenapa Bro ?" tanya Derry "Bini loe ya ?"
"Iya, dia tanya ada cewe ga disini ? ya gw jawab ngga ada." jawab Raka datar, "maksud gw belum ada" gurau Raka kembali yang membuat mereka tertawa.
"Hahahaa, Ranti . . Ranti . . Gw kalau inget masa lalu kalian bikin gw greget banget" pungkas Rico.
"Loe jadi juga ya married sama dia, setelah sekian banyak proses yang mengharu biru" lanjut Rico.
"Namanya juga jodoh Bro, kita bisa apa".
Tak lama kemudian ada tangan perempuan yang melingkar di bahu Raka lalu mencium pipi Raka.
"Suamiku, aku datang untukmu" ucap perempuan itu dengan lembut dan manja.
Mereka bertigapun tampak kaget dengan kehadiran Ranti.
"Ehh Saa Sayang kamu kesini ? kok ga bilang" anak"? gmn ?" tanya Raka dengan nada dan raut muka yang tampak kaget. Rantipun tersenyum.
"Anak" sama mama dong sayang, masa mau aku bawa kesini." jawab Ranti, mereka memang berasal dari Bandung yang hijrah ke Ibu Kota untuk karir yang lebih baik.
Ranti langsung menatap Rico seraya berkata "Aku denger loh Co kamu tadi bilang apa" ucap Ranti dengan nada judesnya dia, namun Ranti langsung tersenyum kepada Rico "Loe saksi yaaa betapa hebatnya kisah cinta kita" ucap Ranti sambil mencium mesra Raka.
"Cieeee uda ah loe berdua bikin kita makin Jones" keluh Derry yang langsung mengundang gelak tawa mereka.
"Tenang aja, gw bawa stock model, Girls ... " panggil Ranti pada teman-teman Modelnya. Lalu datanglah 5 perempuan muda nan cantik mempesona, mereka adalah model-model asuhan Ranti mereka masih berumur 20-25 tahun, kecuali Vina Sahabat Ranti yang sudah berumur 29 tahun.
Merekapun larut dalam pesta malam itu, penuh kesenangan dan suka ria. Waktu menunjukan pukul 1.30 malam, merekapun memutuskan untuk pulang dan beristirahat mengingat esok masih ada meeting menanti. Ranti sengaja tidak membawa mobil agar pulangnya bisa bareng dengan Raka. melihat Ranti yang mabuk, Rakapun memutuskan untuk membawa Ranti ke Apartemen yang berujung semua pulang ke Apartement.
Sampai di Apartemen yang memiliki type 3 bedroom ini, Ranti langsung menciumi Raka tanpa henti, seperti mereka adalah pasangan yang baru jadian atau pasangan yang sering LDR-an padahal kemarin pagi mereka baru saja bertemu dirumah. Rantipun tidak sungkan untuk meluapkan rasa cintanya didepan teman-teman Raka. Fisik Ranti yang hampir sempurna membuat Ranti mereasa percaya diri untuk show off kemesraan didepan umum.
Melihat Ranti dan Raka berciuman hot, teman-teman mereka langsung menyoraki mereka
"Uda loe pada masuk kamar gih, bikin ngiri aja" teriak Vina yang langsung mengundang gelak tawa semua orang. Raka hanya melampaikan tangan untuk ijin ke kamar tanpa melepaskan ciuman istri cantiknya, Raka langsung membopong Ranti masuk ke kamar.
Beeff Beefff Beeefffff Beeeeffffffff
Bunyi alermm yang mengguncang kamarpun terdengar, waktu menunjukan pukul 7 pagi,
"Banguuunnn semuaaa ayooo banguunnn" teriak Ranti sambil memukul mukul wajan "Bangun semuaaaa time to breakfast" teriak Ranti.
Ranti terbiasa bangun dan sibuk dipagi hari, walaupun sifat Ranti sering urakan namun Ranti selalu mencoba jadi ibu dan istri yang baik, dia tidak pernah melewatkan untuk membuat dan menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
Rantipun kembali melanjutkan memasak omlete dan roti isi, belanjaan yang sudah dia siapkan sebelum nyusul Raka di club.
"Hai Ran, uda sibuk aja ney pagi-pagi" sapa Rico, Rico terlihat sudah mandi dan sudah ganteng.
"Hai Co, uda siap aja ney, uda ganteng" lirik Ranti sambil melihat kearah Rico, yang sedang membuka lemari atas untuk mengambil gelas.
"Iya donk kan ekmud" goda Rico sambil tersenyum jahil.
"Hahahhaa, iya iya eksmud" senyum Ranti, Ranti langsung menyambar gelas yang tadi diambil Rico.
"Mau teh apa kopi ?" tanya Ranti.
"Kopi, Mocacino, airnya ditambah dan gulanya juga ditambah" ucap Ranti dan Rico secara bersamaan, yang mengundang tawa kecil keduanya. Ranti dan Rico memang sudah lama saling mengenal dan sering nongkrong bareng, sehingga membuat Ranti hapal kesukaan Rico. Ranti memang ornag yang hangat dan selalu ingin tahu kesukaan orang lain, karena pada dasarnya Ranti selalu menginginkan orang lain mengenal dan mengenangnya.
Semua penghuni kamar apartemenpun segera bangun karena wangi omelete yang dibuat oleh Ranti.
"Istriku tersayangggggg, uda cantik jago masak lagi, makin sayang jadinya" puji Raka sambil mencium mesra istrinya.
Setelah sarapan mereka bergegas untuk menuju kantor Bumi Indah Group ditengah kota Bandung. Rapatpun dimulai, rapat ini membahas tentang proyek perumahan diarea Bandung Selatan. Bumi Indah akan menyulap Kabupaten Bandung selatan menjadi wilayah perkotaan dengan mengusung perumahan besar mulai dari perumahan biasa sampai perumahan mewah namun terhalang oleh pembebasan tanah masyarakat sekitar. Tanah yang akan dibangun merupakan pemukiman warga, sudah 3 tahun ini masalah pembebasan tanah belum berhasil sehingga membuat Raka harus turun tangan.
Masyarakat tidak mau melepaskan tanah mereka karena, harga pergantian yang ditawakan tidak sesuai dengan keinginan masyarakat disana. Masyarakat sendiri masih jarang yang mempunyai Sertifikat tanah sehingga hal itu menjadi celah untuk Bumi Indah memberikan pergantian tanah dengan harga murah, sehingga membuat masalah ini menjadi rumit.
Di sisi masyarakat sendiri mereka mempunyai pengacara yang sangat loyal kepada masyarakat, pengacara ini sangat mementingkan keadilan untuk masyarat yang dia bela tidak perduli siapapun yang dihadapinnya, dia adalah pengacara muda yang sangat cerdas dan juda cantik dia adalah S.ArumiDarmawan (mungkin karena nama akhirnya Darmawan dia ingin menjadi seseorang yang lebih dermawan agar sesuai dengan nama yang diberikan orang tua kepadanya).
Diruang rapat itu sudah berkumpul semua pihak yang berurusan, para GM Bumi Indah termasuk Raka, Rico dan Derry, perwakilan dari Kabupaten Bandung Selatan, Perwakilan Masyarakat dan juga perwakilan dari kantor pengacara Arum. Rapat sangat panas diruang itu, pihak Kabupaten terlihat lebih memihak Bumi Indah sehingga perwakilan pengacara dan masyarakat menjadi meradang. Pihak Kabupaten keukeh dengan pendiriannya bahwa tanah itu tidak memiliki sertifikat sehingga seharusnya masyarakat dengan sendirinya meninggalkan area itu, sedangkan masyarakat keukeh dengan dalihnya bahwa tanah itu milik mereka karena sudah dimiliki turun temurun oleh leluhur mereka, sehingga mereka berhak mendapat pergantian uang yang layak.
Saat suasana memanas, terdengar suara pintu diketuk dan masuklah Pengacara Arum kedalam ruangan, Arum masuk dengan muka masam dan teramat marah lalu dengan tegas menegur perwakilan kabupaten "Saya dengar apa yang bapak katakan tadi, bapak kalau bicara mohon berhati-hati dan pakai hati" tegur Arum seraya menyerahkan dokumen yang ada ditangannya. "Ini adalah sertifikat tanah dan rumah milik warga" ucap Arum sambil memandang bengis kepada Perwakilan Kabupaten dan Bumi Indah. "Sudah syah tanah ini milik masyarakat dan bila anda Bumi Indah ingin membeli tanah mereka, maka belilah dengan harga pasaran yang wajar, rapat ini saya tutup kita bertemu dipengadilan" ucap Arum dengan nada melecehkan, lalu megajak perwakilannya dan perwakilan masyarakat keluar dari ruang rapat.
Semua peserta rapat yang tersisa tertegun, "pak, bagaimana mereka mendapatkan sertifikat tanah mereka ?" ujar Hans GM Bumi Indah Bandung. "Hmpp saya kurang tahu juga pak, di BPN memang waktu itu tanah itu belum ada sertifikatnya" Ujar Afif pekerwakilan Kab Bandung.
"kapan bapak cek ?" Tanya Derry. "uhmm 3 tahun yang lalu." Jawab Afif.
"Ya Ampun Bapak kenapa ga dicek lagi, mati kita pak!!" bentak Hans.
Sementara itu Rico dan Raka masih tertegun, mereka kaget dengan pengacara yang tadi menegur mereka dengan nada lantang dan lugas. Dia adalah Sanda yaa Sanda teman SMA mereka, Sanda adalah kecengan Raka sejak kelas 1 SMA, dia adalah anggota OSIS yang sangat pindar, cantik dan berjiwa sosial pantas saja sekarang dia jadi Pengacara HAM yang selalu membela kepentingan rakyat kecil. Hati Raka berdebar kencang melihat sosok wanita yang selama ini dipujanya. Terakhir mereka bertemu adalah 4 tahun yang lalu pada acara Reuni SMA mereka, selama ini tidak ada yang tahu bahwa Sanda adalah seorang pengacara HAM sehingga sangat surprise sekali kehadiran Sanda diruang rapat itu.
"Raka bagaimana menurutmu tentang masalah ini ?" tanya seorang Direktur BUmi Indah memecah lamunan Raka dan Rico.
"Saya yang akan tangani kasusnya pak" Jawab Raka dengan tegas dan menyembungikan senyum.
Rapatpun dibubarkan dan ditutup.
Raka, Rico dan Derry pun langsung melipir menuju mobil untuk makan siang disebuah cafe tematik di Bandung tempat yang memang biasa mereka kunjungi. Diperjalanan Hp Raka berdering.
"Halo Sayang" sapa wanita dibalik tlp itu.
"Iya sayang, kamu dimana ?" tanya Raka
"Aku di cafe Sky Blue" cafe dimana Raka akan makan siang disitu.
"Ohh kamu lagi makan ya, sama siapa aja ?" tanya Raka.
"Sama Vina dan Aria Yang, kamu kesini yaaa kan Vina mau kita jodohin sama Rico, okai ?" Sebenarnya saat itu Raka tak ingin bertemu dengan istrinya, kejadian dikantor membuat khayalannya melambung terbang ke masa lalu, menyelami hati yang kembali berbunga tatkala melihat sosok Sanda, namun karena tak ingin mengecewakan Ranti diapun menjawab Okai dan memutuskan untuk makan siang bersama.
Melihat Raka tertegun Rico pun membuka pembicaraan.
"Ka, itu Sanda temen kita kan ?" tanya Rico, Raka hanya tersenyum dan mengangguk, seolah hatinya lemas akan suatu hal.
"Wah gila tuh Pengacara, galak amat yah bro !!" sahut Derry "wah rupanya temen kalian yah" lanjutnya "Bisa dong gw jadi temennya dia juga" goda Derry sambil mengangkat nakal alisnya, meminta persetujuan teman"nya untuk dikenalkan lebih dekat kepada Sanda.
"Loe kata tadi dia gila dan galak, sekarang minta dikenalin" seloyor Rico, sementara Raka masih terdiam. "Gpp bro gw suka cewe yang galak, biasanya cewe galak itu gampangan bro" jawab Derry sambil ketawa-ketawa sendiri. Lalu Raka sontak bicara "Maksud loe apa gampangan" dengan nada ketus. "Wah wah kenapa marah Bro ?" goda Derry, melihat raut muka Raka yang memang sedikit emosi Derry langsung mencairkan suasana "Maksud gw ya dia gampangan, gampang marah, gitu aja emosi bro" jawab Derry sambil tersenyum. Rico melirik ke arah Derry melalui kaca spion tengah seraya mengedipkan mata pertanda "ini serius jangan dlu bercanda".
Merekapun terdiam tak satupun yang berbicara hanya penyiar radio lah yang bersuara saat ini. Raka terdiam, dalam benaknya terbayang lagi wajah Sanda yang walaupun marah masih tetap manis dan meneduhkan. Hatinya bergejolak, fantasi-fantasi masa lalu kenang kembali. Betapa dia memujanya, betapa Sanda sangat sulit untuk diraihnya, betapa seringnya dia memimpikan akan menikahi Sanda dan memiliki keluarga bahagia bersamanya. Tanpa sadar sampailah mereka di Sky Blue.
Makanan telah tersaji. Menu makan siang Raka, Rico dan Derry sudah siap, walaupun mereka tidak memesan namun Ranti sudah siap sedia memesankannya untuk mereka.
"Hempp Sop Iga Bakar, sedap sekali, buat siapa ini Ran ?" tanya Rico.
"Ya buat kamu donk Ricoooo, sahabatku. Seger ini baru disajiin pas banget kalian dateng. Buruan makan nih" balas Ranti, sambil menyodorkan makanan untuk mereka bertiga.
"Wahh Wahh Ranti nih paling hebat emang, biar kata gw jomblo juga berasa punya pacar kalo gini" balas Derry, mereka pun hanya tertawa mendengar komentar Derry.
Mereka lagi bercanda satu sama lain, saling mengobrol dengan tema" perjodohan Vina dan Rico. Namun Raka tampak melamun dan murung akan tetapi dia menyembungikan moodnya dihadapan Ranti. Haripun berlalu lalu mereka kembali ke Jakarta.
Seminggu sudah kejadian rapat di Bandung, namun Raka tidak bisa menepis bayang-bayang Sanda.
"Bro, gw liat loe ngelamun terus semenjak ketemu Sanda" ucap Rico.
"Hemmpp iya bro gw ... " Rakapun kembali terdiam.
"Inget Ranti dan anak-anak loe Ka, mereka membutuhkan loe terlebih anak-anak. Udah lah loe ga usah mikirin dia lagi" nasehat Rico. Raka tersenyum "Iya Bro gw tahu, tp dalam hati gw ada sesuatu yang aneh, gw mendadak sedih banget, ngga tau kenapa Bro" mereka berdua hanya bisa menghela nafas.
Karena Raka bersedia take over kerjaan di Bandung, otomatis dia akan pindah ke Bandung sampai urusannya selesai. Dia membawa serta team dan keluarganya untuk stay di Bandung. Minggu sorepun mereka bergegas ke Bandung, karena mereka orang Bandung jadi tak banyak yang harus dibawa pindah. Raka dan keluarganya memutuskan untuk tinggal bersama ibu Raka di Bandung Timur, namun terkadang Raka harus tinggal di Apartement kantor untuk bekerja dan rapat. Walaupun mereka tinggal 1 kota terkadang pekerjaan Raka sering memaksa mereka untuk LDR karena Raka terpaksa jarang pulang disaat pekerjaan proyek seperti ini.
Bandung adalah sarang untuk Ranti, dikota ini teman-teman entertainment banyak sekali, sehingga saat mendengar akan pindah ke Bandung dia sangat senang karena hari-harinya akan disibukan diluar rumah. Dia berencana untuk bekerja walaupun Raka keberatan namun daripada bertengkar Raka membolehkan Ranti kerja.
Seminggu di Bandung sangat mudah bagi Ranti untuk mendapat pekerjaan, karena memang koneksinya banyak sekali. Dia bekerja di sebuah Hotel di Bandung sebagai VR.
Alasan Raka mengambil proyek di Bandung adalah Sanda. Karena pekerjaan ini mereka jadi sering bertemu walaupun bertemu sebagai "musuh", Sanda akan tetap membela keyakinannya dan Raka mewakili perusahaannya. Rapat demi rapat dilalui mereka namun Raka belum menemukan celah untuk ngobrol bersama Sanda, karena disetiap rapat Sanda selalu penuh dengan emosi dan kebencian terhadap Bumi Indah.
Suatu sore di hari jumat, sebuah rapat sudah selesai. Sanda terdiam sejenak membereskan baerkas yang menumpuk dimejanya, saat itu asistennya yang bernama Putra tidak hadir untuk menemaninya. Saat semua orang sudah meninggalkan ruangan tinggallah Raka, Rico dan Derry yang sedang modus membereskan pointer sambil memandang ke arah Sanda. Dengan memberanikan diri Rico menghampiri Sanda.
"Sanda" tanya Rico. Sandapun menoleh dan berkata "Sanda hanya ada dimasa SMA dan kuliah, saat ini orang-orang lebih suka memanggil saya Arum" jawabnya dengan nada yang datar tanpa melihat lawan bicara.
"Okai, Arum" lanjut Rico, sanda menimpali "Ya, Pak Rico ada yang bisa saya bantu" jawabnya sambil melirik ke arah Rico dan tersenyum simpul.
"Waaw nadanya masih galak ya, heuu . . panggil Rico aja lah kan kita seteman SMA seangkatan, masa kamu ga ingat"
"Ingat, saya hanya bersikap profesional saja. Mengingat dalam kasus ini kita adalah musuh" ucap Sanda.
"Come on Sanda, ini sudah jam pulang kantor. Udahan yah, kita skr sebagai teman lama aja" ajak Rico, dan Sandapun tersenyum manis. "Nah gitu donk, buang semua emosinya. Kita profesional aja okai, pas jam kantor kita musuh pas jam pulang kantor kita teman, how bout that ?" tanya Rico sembari menjulurkan tangannya. Lalu Sandapun menyambut uluran tangan itu, sembari berkata "Okai"
Lalu Rakapun menghampiri mereka dengan hati yang berdegup kencang lalu dengan grogi dia berkata "Soo, gimana kalo kita ngopi bareng", lalu Sanda tersenyum dan bilang "Not too past" sambil tersenyum dan beranjak meninggalkan mereka. Sejenak mereka terdiam lalu tawapun pecah, Rico dan Derry menertawakan Raka yang dengan mentah di tolak Sanda. Namun walaupun ajakannya di tolak Raka bahagia karena akhirnya bisa melihat Sanda tersenyum kepadanya dan situasi sudah tidak tegang lagi.
Sabtu ini Raka berencana menghabiskan waktunya dengan istri dan anak-anaknya, Raka mengajak Ranti untuk tamasya keliling Bandung dan menghabiskan waktu di waterboom Bandung yang sedang terkenal dan kekinian. Saat akan berangkan tlp Ranti berbunyi, ternyata Big Bos nya tlp untuk rapat dadakan. Karena urusannya penting, Ranti tidak bisa ikut bersama Raka, demi untuk anak-anaknya yang uda exsited buat renang Rakapun tetap jadi pergi dan mengajak Rifa adiknya untuk menemaninya. Untungnya Rifa sangat dekat dengan anak-anak Raka sehingga anak-anak senang sekali akan ditemani tantenya.
Setelah jogging pagi merekapun langsung perji menuju waterboom, anak-anak ceria sekali bermain di waterboom. Walau tak ditemani bunda nya anak-anak nampak bahagia sekali dan bermain sampai sore. Saatnya pulang dipintu keluar Raka melihat sosok perempuan yang sangat dia kenal, ya itu Sanda. Dengan reflek dia langsung menyapanya
"Haiii Sanda" Sandapun menoleh dengan wajah kaget.
"Oh hey Raka",
"Km lagi ngapain San, at waterboom?" tanya Raka dengan wajah menerka.
"Bawa main anak-anak Ka, km ngapain ?"
"Sama" jawab Raka tersenyum.
Dari kejauhan terdengar suara memanggil "Tanteeeeeeee" lalu 2 anak kembar identik itupun menghampiri Sanda dengan riang.
"Ini nih anak-anakku tersayang, ponakanku" ucap Sanda sambil mencubit pipi kedua keponakannya.
Lalu terdengar suara dari arah mobil Lexus yang terparkir tak jauh darinya "Aaa cepetan a, anak-anak dah kecapean" teriak Rifa.
"Oh itu Rifa adik kamu ya?" tanya Sanda sambil melambai kearah Rifa yang kebetulan Sanda kenal dengan Rida yang bekerja di Bank rekanan kantornya.
"Iya, kayaknya anak-anak dah kecapean, aku pamit dulu ya" ucap Raka sembari mengulurkan tangan kearah Sanda untuk berpamitan, dengan senyum ramah Sanda menyambut salaman Raka. Saat berbalik Sanda mengucapkan kata-kata yang membuat Raka bahagia tak karuan.
"Tawaran ngopinya masih berlaku?" tanya Sanda, mendengar kata itu dunia seperti berhenti, jantung Raka berdebar tak karu-karuan. "Well, kalau malam ini sibuk, ga papa bisa next time" lanjut Sanda.
Raka langsung membalikan badannya dan mengatakan "Okai, bisa, malam ini kan" dengan suara bergetar dan raut wajah yang bahagia sekali. "Dimana ?". Melihat tingkah laku Raka, Sanda tersenyum "Kamu tau Cafe Cofee Risk ?" Raka mengangguk. "Okai jam 8 disana, it that Ok?" lanjut Sanda, Raka seperti terhipnotis dan langsung mengangguk" kegirangan.
Di mobil Raka tidak bisa menyembungikan rasa bahagianya, dia bernyanyi dan tersenyum lebar sepanjang perjalan da membuat Rifa terheran-heran.
"Kakenapa sey ?" tanya Rifa kepo, "Abis ketemu Ibu Arum langsung riang gembira gitu" godanya.
"Rifa apaan sey kamu, kalau ngomong jangan sembarangan kamu" balas Raka "Ada anak-anak"
"Tenang aja KA anak-anak dah tidur. Cerita donk kenapa ? ko kayak yang falling in love gt, hati-hati lohhh" ancam Rifa.
"Apaan sey Fa, ka cuma seneng aja ketemu temen lama" balas Raka sambil mengangkat alisnya. "Btw kamu kenal sama Sanda ?"
"Sanda siapa ka, itu Ibu Arum dia Notaris sekaligus Pengacara HAM, dia ma terkenal banget seBandung Raya, orangnya lembut, baik sama pegawainya dan baik pula sama rekanannya. Orangnya ironik sey ka"
"kenapa Fa"
"Dia kan cantik tapi belum nikah juga, padahal kan umurnya dah banyak kan kaya kakak, hahaha" goda Rifa. "Apaan sey Fa, umur 30 an itu lagi hot hotnya kali"seru Raka.
"Hot, cabe cabean kali ah hot" merekapun tertawa riang, memang Rafa dan Rifa adik kakak yang sangat dekat walaupun usia mereka beda 8 tahun.
"Mau dilanjut ga ceritanya ?" rajuk Rifa "mau donk Adeku sayang"
"Dia tuh pembela rakyat kecil lah pokoknya, dermawan, uda deh" Rifa pun berhenti bicara.
"Udah deh apa ?"
"Yauda, ceritanya udahan" jawab Rifa dengan nada datar yang lucu.
"Iy apaan sey ade ini ceritanya gitu doang"
"Ya apalagi donk kaka, Rifa taunya cuma gitu doang"
Mobil melaju sampai ke rumah Raka waktu menunjukan pukul 05.30. Raka langsung masuk ke rumah dan ke kamar dengan perasaan riang dan bersiap untuk memilih baju mana yang akan dia gunakan untuk malam nanti. Saat memasukin kamar Ranti sudah berada dikamar, dalam hatinya Raka berkata "Ya Ampun, sampe lupa kalau gw uda punya istri, apa yang harus gw bilang ke Ranti. Ini malam minggu, bisa habis gw kalau minta ijin keluar rumah" Raka masuk perlahan dan mencium kening Ranti, rasa getir timbul dihati Raka. Baru saja dia merasa jatuh cinta pada masa lalu nya, dan sekarang dia berhadapan dengan masa depannya. Dalam hati Raka berkecambuk, moralnya mulai berkata "gw orang yang sangat jahat" lalu Raka menghela nafas.
"Sayangku, besok kita ke dealer ya, kamu beli mobil" ucap Raka sambil mencium kening istrinya. Ranti langsung berbalik dan menciumi bibir Raka namun saat itu Raka tak mampu untuk berciuman karena dalam hatinya ada rasa yang sulit diungkapkan. Ranti melepaskan ciumannya.
"Kenapa sayang ? Ko tiba' kamu mau beliin aku mobil ?" tanya Ranti penuh heran. Dengan nada kikuk raka menjawab "hmmpp ngga, aku dah niat beliin kamu mobil uda lama ko, cuma kalau beli mobil bekas di jakarta ragu juga takutnya bekas kerendam banjir"
"Bekas ?" tanya Ranti dengan raut muka bertanya-tanya
"Iya bekas, gpp kan sayang ? Mobil bekas tapi yang bagus, dari pada mobil baru tapi murah" ucap Raka. Dengan gaya seperti orang yang berfikir Ranti bergumam "Hemppppp" lalu Ranti langsung menyergap suaminya, sehingga suaminya terjatuh ke ranjang. Ranti langsung mengciumi Raka, dia agresif sekali dan berkata "Ok sayangkuu, gapapa ko bekas juga, aku kan belum lihay ngetirnya, jadi mau aku tubruk-tubrukin ke orang" merekapun langsung tertawa.
Tak lama kemudian HP Ranti berdering, Ranti langsung menjawabnya dengan aga menjauh dari Raka. Dari kejauhan terdengar suara Ranti "iyaa jadi, okai, baik, tunggu saja, aku pasti dateng". Kemudian telp ditutup dan Ranti kembali ketempat tidurnya kemudian dia berkata.
'Sayangku, aku belum bilang ke kamu" ucap Ranti dengan nada membujuk
"Ada apa ?"
"Begini, dikantorku kan sedang ada proyek pembangunan baru, tadi tuh ada investor yang dateng dan tadi aku uda janjiin ke investornya kalau aku mau anterin mereka buat refreshing di Bandung"
"Refresing ? What Mean Please ?"
"To the poin yaaa, mereka mau entertainment disini dan aku di tunjuk buat nemenin mereka"
"APAAAAA, kamu kerja apa sey sebenernya ?? Wanita penghibur ?" ucap Raka dengan nada yang sangat marah. Ranti adalah tipe perempuan yang tidak suka dibentak.
"Hati-hati kalau bicara !!!" balas Ranti dengan nada yang lebih marah "Aku perempuan terhormat, aku adalah VR dan memang sudah jadi tugasku untuk menemani investor, aku rasa kamu tau itu kamu kan GA juga" bentak Ranti penuh emosi. Adzan magribpun berkumandang, pintu diketuk oleh ibunda Raka "Raka Ranti ayo kita sholat sayang" ajak ibunda Raka yang tau kalau anak dan menantunya sedang bertengkar.
Raka dan Ranti memang tidak sungkan untuk bertengkar didepan siapapun seperti halnya saat mereka show off kemesraan meraka.
"Baik bu, sebentar lagi kami keluar"
Mereka segera keluar dan melakukan shalat magrib berjamaah. Waktu menunjukan pukul 6.30 hati Raka bergetar teringat janjinya dengan Sanda, Raka ingin sekali memberi tahukan Sanda kalau dia tidak akan datang namun saat itu hp Raka mati total.
"Aku pergi" ucap Ranti, walaupun tidak diijinkan Ranti akan tetap pergi. Kenangan masa lalupun teringat kembali, dulu saat Ranti ada pekerjaan pemotretan di Singapore Raka tidak mengijinkan namun pada akhirnya Ranti pergi. Pemotretan adalah hal yang sangat disukai Ranti sehingga dia meresa tidak ada yang salah dengan itu. Walaupun pada akhirnya mereka bertengkar hebat dan nyaris bercerai namun karena ke 2 anaknya mereka rujuk kembali.
"Aku pergi" ucap Ranti lagi, Raka terdiam sejenak dia tidak ingin bertengkar dengan Ranti.
"Ok, tapi aku antar"
"Baiklah, terima kasih sayangku. Aku bersiap dulu" dengan nada ceria Ranti berlalu untuk ganti baju. Ranti memilih gaun warna merah maroon dengan steletto hels warna senada dengan rambut curly yang terurai indah.
"Kamu cantik banget"
"Aku tau sayang, aku istrimu jadi harus selalu tampil cantik"
Mereka pamitan kepada ibunda Raka dan menitipkan anak-anaknya, selama dengan oma nya anak-anak akan aman dan dijamin tidak akan rewel.
"Aku anter kemana ?"
"Ke bandara"
"Apa ??" Raka marah dan terkejut "Mau apa kamu ke Bandara ?"
"Aku mau ke Bali" Jawab Ranti dengan PD nya
"Kamu sudah gilaa, kamu sudah bukan lagi gadis, kamu bersuami dan sudah punya anak, kamu ga bisa kesana-kesini seenaknya!!" seru Raka dengan nada marah dan memukul stir mobil.
"Apaan sih kamu, marah-marah aja, kamu kemanapun kapan aku marah ??" nada Ranti santai "Aku ke Bali malam ini, besok pagi aku dah pulang"
"Pulang pagi" keluh Raka,"uda deh kamu resign aja"
"Kamu itu kenapa sey ga profesional banget, aku ga mau ya ngalah karena hal ini, aku kan dah bilang dan kamu ngijinin, lagi pula aku kan tidak selingkuh" ucap Ranti marah.
Mendengar kata selingkuh Raka langsung terperanjat kaget dan teringat dengan Sanda "ya Ampun, aku lupa ngabarin dia kalau aku tidak akan datang". Raka terdiam dan langsung mengantarkan Ranti ke bandara Bandung yang tidak terlalu besar itu. Di bandara sudah terlihat beberapa rekan Ranti menunggu serta ada 3 lelaki bule dan 2 orang perempuan bule,"mungkin itu investornya" bisik Raka dalam hati. Raka mengantarkan Ranti menuju rekan-rekannya dan berkenalan dengan semua rekan Ranti lalu berpamitan pergi.
"Hati-hati sayang, kabari kalau sudah di Bali" Raka pamit dan mencium kening Ranti "Iya sayang"
Ranti dan teman-temannya langsung masuk ke bandara untuk segera check in, sementara Raka duduk terdiam, dia masih berfikir dan mencerna apa yang sedang terjadi. Saat dia ada kesempatan bertemu berdua dengan Sanda, Rantipun kebetulan pergi, padahal kalau Ranti tidak pergi kesempatan bertemu dengan Sanda tak akan ada. Rakapun langsung mengaitkan semuanya dengan takdir, dalam benaknya dia berkata "mungkin inilah takdirnya, aku harus ketemu Sanda untuk mengetahui perasaanku yang sebenarnya". Kemudian dengan segenap hati Rakapun bergegas untuk memenui Sanda.
Menuju cafe Coffee Risk yang ada di area Dago atas, masuklah Raka ke cafe itu rupanya Sanda sudah datang. Dia duduk di bangku Bar yang menghadap ke tebing dengan pemandangan langit luas dan juga hutan pinus. Melihat Sanda dari belakang sudah memberikan debaran yang dasyat di hati Raka, segala apa yang dalam fikirannya hilang sudah. Raka mendekati Sanda ingin sekali dia mencium rambut wanginya Sanda yang diikat rapi itu, wangi parfumnya masih sama seperti saat kuliah dulu. Tanpa disangka Sandapun menoleh kebelakang lalu tersenyum kepada Raka.
"Haiii" sapanya dengan nada manis dan seyum lebar menghiasi wajahnya.
"Hai, uda lama San ?" ucap Raka sambil membalas lambayan tangan Sanda, lalu Raka duduk disamping Sanda.
"Belum ko, aku juga baru sampai" balas Sanda sembari memberikan buku menu yang ada ditangannya "Nih pilih, kopi ini pakai Arabica loh"
"Oh yaa" jawab Raka sambil tersenyum dan menampakan raut muka yang terkejut karena senang, padalah Raka tidak mengerti apa itu Arabica ataupun Robusta. Dia minum kopi apa saja yang tersaji.
"Iyah, ayo pilih, kamu sukanya jenis minuman kayak apa ? Espresso ?" tanya Sanda
"Waw" jawab Raka
"Ehh Sory, kamu suka kopi ngga ?" tanya Sanda karena melihat ekspresi muda Raka, Sanda khawatir dia salah memilihkan tempat ngopi.
"It ok, aku suka ngopi ko, tp ga espresso juga sey, pahit" jawab Raka untuk menenangkan Sanda, karena wajah Sanda sempat menunjukan tanda khawatir. Melihat raut muka Sanda yang sedang khawatir Raka semakin gemas, dia teringat waktu kuliah dulu saat acara reuni SMA pertama, Sanda memilih tempat sushi untuk acara Reuni. Raka belum pernah makan sushi sebelumnya, saat dia mencoba sashimi wajah Raka langsung memerah karna alergi. Saat itu Sanda sangat khawatir dan langsung mengantar Raka ke rumah sakit, dengan penuh rasa khawatir dia menggenggam tangan Raka dan memandang wajah Raka. Walaupun saat itu Raka kesakitan namun kebahagiaan ada dalam benaknya. Mengenang hal itu Raka langsung tersenyum bahagia.
"Hempp aku takut kamu alergi lagi" goda Sanda, dan merekapun tertawa lepas mengingat kejadian sushi itu. Akhirnya Raka pun memesan coffee late yang lebih dominan susu dari pada kopi ditemani sirloin sandwich sedangkan Sanda sendiri lebih memilih Dry Cappucino yang lebih sedikit cream dan sepotong beef lasagna untuk menemaninya. Mereka larut dalam obrolan masa lalu, tentang keseruan reuni dan sushi. Karena keasikan ngorol Raka sampai tidak sadar kalau Ranti tidak memberikan kabar dan kegiatannya di Bali, tak sedikitpun Raka ingat akan keluarganya, dia seperti kembali bujangan. Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, cafepun segera tutup namun mereka masih asyik dengan obrolannya.
"Duh uda mau close ney cafenya" ujar Raka
"Iyah, so we going home right " tanya Sanda, Raka selalu terjebak dengan pertanyaan ambigu seperti ini, dia bertanya-tanya dalam hatinya apakah ini pertanyaan atau pernyataan, seandainya tanda seru dan tanda tanya bisa terlihat melalui perkataan mungkin tidak akan membingungkan.
Seperti dulu saat SMA mereka mengadakan pensi, Sanda selaku osis dan Raka sebagai kru panitia. Raka sengaja mendaftar untuk menjadi panitia agar dia bisa terus bersama Sanda berharap ada kesempatan berdua bersama Sanda. Kesempatan itu sering muncul namun karena grogi Raka menyia-siakan kesempatannya. Saat selesai acara pensi, semua anak-anak berencana untuk mengadakan perta dengan pergi kesebuah tempat clubing namun tiba-tiba Sanda tidak jadi pergi.
"Guys, maaf sepertinya aku ga jadi ikut ke Morg Club, mendadak ada sodara aku yang dateng" ijin Sanda pada waktu itu.
"Yah, Sanda, ga seru donk" keluh Mila teman sekolah mereka.
"Km baliknya gmn ? kalau kita anterin kamu dulu kejauhan, nanti free pas nya hangus, hehe" ujar Jeremy, memang dulu karena masih SMA anak-anak mencari free pas atau gust list untuk masuk ke tempat clubbing supaya free entri maklum masih sekolah dengan resiko harus dateng diclub lebih awal.
"Gpp Jer, aku bisa balik sendiri"
"Beneran ? Dah malem gini loh San"
"beneran Jer gpp, kalian have fun ya disana, aku ga mau kalian mikirin aku, aku have fun kalau kalian have fun." ucap Sanda meyakinkan temannya. Lalu Raka memberanikan diri menawarkan diri untuk mengantarnya.
"Aku antar saja ya San, uda malem" ujar Raka
"Gpp Ka" balas Sanda, Raka berfikir bahwa kata itu "gpp raka aku sendiri aja" makanya Raka langsung menjawab "Oh gt, yauda kamu hati-hati ya, kabari kita kalau uda sampai" balas Raka, Raka langsung mengajak teman-temannya masuk ke mobilnya dan bergegas pergi, ini dia lakukan untuk memendam rasa kecewanya karena sudah ditolak Sanda. Padahal pada waktu itu maksud Sanda "Gpp ka" yang berarti dia balik nanya ke Raka "Gpp gt kamu nganterin aku ?". Maksud Sanda itu dimengerti oleh semua orang kecuali Raka, setelah Rico memberitahu Raka barulah Raka sadar kalau dia sudah salah menyia-nyiakan kesempatannya. Dan dari situ rasanya Raka ingin menabrakan kepala ke tembok.
Sejenak Raka terdiam lalu terpecah oleh ucapan Sanda "Kenapa diem Ka, kamu parkir dimana ?" Raka terperanjat lalu menjawab "Dibawah San" Dia ingin sekali menggenggam tangan Sanda namun tingkah laku Sanda menunjukan bahwa dia wanita mandiri yang tak ingin disentuh atau tak butuh pria untuk membatunya berjalan. Gaya Chic dalam berpakaiannya menunjukan dai mempunyai karekter cerdas dan kuat, malam itu dia mengenakan steletto heels warna abu yang sesuai dengan kaos rajut yang dikenakannya.